Kamis, 29 Januari 2009

Cerita Dewasa Plus Download 3gp Esek-esek

dapetin koleksi 3gp yang bisa download gratis dibawah ini

3gp AREMA

3GP Mojang Priangan

3gp WONG KITO

3GP Cah Semarang

“Anak-anak mana?” tanyaku merasa tak nyaman. Aku coba untuk bergerak, tapi Jenny tak membiarkanku. Dia ingin agar Sherly melihat aksi kami berdua.
“Kutitipkan di rumah mami. Aku mau memberimu kejutan ‘a night out alone’,” jelasnya, nampak jelas rasa kecewa dan terkejutnya.
“Jenny! Teganya kamu?” teriak Sherly terdengar hamper menangis, tapi Jenny Cuma tersenyum sinis.
“Teganya aku? Kakak pasti bercanda! Coba kakak periksa rekaman video di bawah. Itu rekaman perselingkuhan Bob dengan kak Sherly,” balas Jenny said lalu kemudian dengan mata menatap kea rah kakaknya, dia memasukkan batang penisku hingga ke batangnya.
“Nah, aku rasa yang terkejut sekarang adalah kakak. Apa kakak benar-benar berharap kalau rekaman itu tak akan diketahui oleh siapapun?” Tanya Jenny. Sherly menggelengkan kepala.
“Kakak keliru,” kata Jenny, lalu menambahkan dengan nada sinis, “Nah, sekarang impas kan?” tangis Sherly benar-benar pecah sekarang dan dia berlari meninggalkan kamar. Bukannya merasa puas telah membalas dendam, tapi aku malah merasa sangat tidak enak. Kudorong tubuh Jenny menjauh dan pergi menyusul Sherly. Kutemukan dia di ruang keluarga, sedang menyaksikan rekaman videonya dengan Bob. Dia menoleh dan memandangku dengan tatapan yang berlinang air mata.
“Aku sungguh-sungguh minta maaf!” ucapnya diantara isak tangisnya. “Itu terjadi begitu saja bulan lalu. Bob tengah frustrasi karena Jenny tak juga hamil. Kami minum-minum dan aku tak ingat pasti apa yang terjadi kemudian, yang kuingat saat aku terbangun, kita tidur berdua di ranjangnya. Apakah kamu mau memaafkanku?” tanyanya. Aku hendak mulai menjawab, tapi Jenny sudah berada di ruangan ini.
“Abang percaya semua omong kosong ini? Itu mungkin benar kejadian pertama kalinya, tapi bagaimana dengan yang berikutnya? Kak Sherly terlihat jelas sangat menikmatinya dalam video itu,” potong Jenny dengan marah. Wajah Sherly berubah merah oleh rasa malu.
“Kami melakukannya cuma dua kali saja,” bela Sherly lirih, meskipun dia sadar itu tak banyak membantunya.
“Kejadian yang kedua terjadi saat Bob menelphone-ku untuk dating dan bicara. Aku juga terkejut saat mendapati ada sebuah kamera yang dalam keadaan siap rekam. Lalu dia memperlihatkan padaku rekamannya dengan Jenny yang sedang bercumbu. Kami sepakat untuk menghentikan affair ini, tapi Bob ingin membuatsebuah video sebagai kenang-kenangan.”
“Dan kakak tak mampu menolaknya, kan?” potong Jenny dengan tajam.
“Aku mau menolaknya!” jawab Sherly, tapi kemudian meneruskan dengan suara pelan, “Tapi video kalian berdua benar-benar membuatku jadi terangsang. Melihatmu bercumbu dengan Bob sangat membuatku terangsang.”
“Kakak jadi terangsang karena melihatku?” Tanya Jenny tak percaya. Sherly tak berani menatap kami berdua, tapi dia hanya mengangguk. Aku gelengkan kepala. Aku benar-benar kaget dengan apa yang dikatakan Sherly barusan.
“Jenny, Sherly dan aku menikah di usia muda. Aku tidak heran jika kakakmu membayangkan apa yang hilang dari masa mudanya setelah kami menikah dulu. Aku juga merasakan hal itu.”
“Lalu apa abang berselingkuh di belakang kakak?” Tanya Jenny asked. Kugelengkan kepala.
“Tidak sampai hari ini,” jawabku. Sherly mulai merasa tak nyaman.
“Aku benar-benar minta maaf! Aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu,” kata Sherly. Aku tersenyum mendapati situasi ini. Ketakutan terbesarku adalah jika Sherly sudah tidak mencintaiku lagi. Sekarang aku tahu itu tidak benar.
“Aku tak akan meninggalkan kamu. Andai saja kamu ceritakan padaku tentang semua ini sebelum kamu membuat keputusan, mungkin kita bisa lakukan itu bersama.”
“Bersama?” tanyanya. Dia terlihat jelas terkejut.
“Ya. Sherly, aku punya sebuah fantasi yang ikin kulakukan. Aku tak pernah menceritakannya padamu karena kupikir kamu sangat konservative tentang seks dan kupikir kamu akan marah jika kuajak membicarakannya. Aku tak ingin kehilangan kamu.”
“Sungguhkah?” tanyanya, ketakutanna perlahan berubah menjadi sebuah harapan. Kurengkuh dia ke dalam pelukanku dan memberinya sebuah ciuman yang sangat dalam sebagai jawabannya.
“Jadi, abang mengijinkan pria lain menikmati tubuh isteri abang?” Tanya Jenny tak percaya Aku mengangkat bahu dan tersenyum.
“Aku tak masalah jika Sherly bercinta dengan orang lain, Cuma syaratnya aku harus ada di sana dan dia pulang ke rumah kembali bersamaku.”
“Menakjubkan,” kata Jenny, tak tahu harus berkata apalagi.
“Jenny, meskipun ini tak membantu, Bob mengatakan padaku kalau hanya dengankulah satu-satunya wanita yang pernah berselingkuh dengannya. Aku percaya padanya. Bob benar-benar mencintaimu,” kata Sherly, masih memelukku. Jenny masih tetap menggelengkan kepala.

Kutarik kembali Sherly dalam sebuah ciuman. Aku masih tetap telanjang, sedangkan Sherly masih berpakaian lengkap. Aku mulai melucuti pakaiannya. Dan dia membantu mempercepatnya.

“Hey, bagaimana dengan aku?” Tanya Jenny. Sherly memandangku seakan meminta ijin. Aku mengangguk, masih meraba-raba kemana ini akan berakhir. Isteriku menatap adiknya dan menyeringai lebar.
“Jenny, kamu sangat boleh bergabung dengan kami,” undangnya. “Sudah kukatakan, Aku sangat suka melihatmu bercinta dengan Bob. Kurasa melihatmu melakukannya dengan suamiku pasti akan lebih dahsyat lagi!” Aku sama terkejutnya dengan Jenny, tapi aku sudah terlalu terangsang oleh wanita yang kunikahi hamper dua puluh tahun ini.

Sherly dan aku tak menunggu jawaban Jenny lagi. Kupanggul Sherly menuju ke kamar tidur kami dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tengkurap. Dia protes soal aroma dan kenyataan kalau sepreinya telah habis dipakai, tapi protesnya tersebut langsung terhenti begitu kulesakkan batang penisku ke dalam lubang vaginanya. Kupegangi pinggulnya saat aku mulai bergerak keluar masuk.

“Ya, setubuhi aku sayang!” teriaknya. Sherly tidak pernah berkata mesum saat berhubungan seks sebelumnya. Birahiku benar-benar terbakar oleh perubahan isteriku ini. Kami berdua benar-benar terhanyut dengan irama persetubuhan ini hingga aku dikejutkan oleh sebuah tangan yang memegang buah zakarku.
“Jadi, akhirnya kamu putuskan untuk bergabung dengan kami,” kataku pada Jenny. Dia mengangkat bahunya, tersenyum nakal dan kemudian menciumku.
“Aku tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menikmati batang penis abang lagi,” katanya begitu lumatan bibirnya denganku berakhir. Kemudia dia menampar pantat Sherly dengan keras. Sherly teriak terkejut.
“Disamping itu, aku masih belum memberikan hukuman pada wanita jalang yang sudah menyetubuhi suamiku ini,” katanya sebelum memberi sebuah tamparan lagi.
“Hey! Hentikan,” cegahku. Aku mencintai Sherly dan tidak ingin melihat dia disakiti.
“Tidak apa-apa! Aku memang pantas mendapatkannya,” kata Sherly, mengejutkanku, tapi kurasa Jenny sudah mengira akan hal ini.
“Nah kakakku yang jalang, kakak suka dengan kekerasan ya,” kata Jenny dengan yakin sambil memilin putting kakaknya dengan kasar. Sherly berteriak antara sakit dan nikmat. Baru saja aku mau menghentikan semua ini, tapi Sherly malah mulai meledak orgasmenya. Ini akan menjadi sebuah eksplorasi yang menarik dilain waktu.

Jenny menarikku menjauh dan menaiki batang penisku. Tak perlu menunggu waktu untuk penyesuaian yang lama lagi seperti saat pertama kali, dia kemudian mulai bergerak naik turun di atasku sekali lagi. Aku sudah dekat dengan orgasmeku saat akhirnya Sherly pulih kondisinya setelah ledakan orgasmenya. Dia melumat bibirku dengan liar sebelum tangannya bergerak meremas pangkal batang penisku.

“Hey, hentikan, kakak merusak iramaku!” Jenny komplain. Sherly tersenyum, melepaskan cengkeramannya dan menarik Jenny dalam sebuah ciuman. Ciuman keduanya sangat lama dan juga basah, tapi saat akhirnya selesai Jenny kembali komplain.
“Wanita jalang!” teriaknya, yang sebenarnya hanya terkejut oleh aksi Sherly barusan. Isteriku hanya tersenyum.
“Sudah kubilang kan, kalau melihatmu bisa membuatku sangat terangsang. Apa yang kamu harapkan saat memutuskan untuk bergabung dengan kami?” jawab Sherly, dan kemudian tangannya bergerak ke bawah untuk memainkan kelentit Jenny. Segera saja nafas Jenny mulai tersengal.
“Aku tidak tertarik pada wanita! Singkirkan tangan kakak!” perintahnya, tapi Jenny tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan Sherly.

“Aku juga belum pernah melakukannya dengan seorang wanita sebelumnya. Aku rasa kamu juga. Bagaimana kamu tahu kalau kamu tak suka?” Tanya Sherly.
“Tapi aku kan adikmu!” jawab Jenny. Sherly tak menghiraukannya.
“Aku yakin kalau mulutmu pasti akan lebih bermanfaat daripada hanya bicara tak karuan begitu,” jawab Sherly, lalu kemudian kembali melumat bibir adiknya lagi.
“Wow! Sherly, ini sangat hot! Jika saja aku tahu lebih awal kalau kamu juga mau melakukannya denga wanita juga,” kataku dengan seringai lebar. Sherly hanay mengangkat bahu.
“Siapa kira? Aku juga tak pernah membayangkan sebelumnya sampai aku lihat videonya Jenny dengan Bob,” jawabnya sebelum kemudian membungkuk kedepan untuk menghisap salah satu putting payudara Jenny. Mengerang keras Jenny mulai orgasme.

Aku mencoba untuk bertahan, tapi segera saja aku seburkan spermaku ke dalam vagina Jenny juga. Jenny membuat kami berdua terkejut saat dia menjambak rambut kakaknya agar mendekat padanya dan melumat bibirnya dengan liar ditengah ledakan orgasme yang melandanya.

Sherly meraih batang penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya begitu orgasme yang mendera kami berdua mereda.

“Iih, menjijikkan! Penis abang kan penuh dengan cairanku,” kata Jenny dengan wajah menyeringai. Sherly hanya tersenyum lalu mendorong tubuh adiknya hingga terlentang. Dia bergerak menaiki tubuh Jenny dan duduk di atas dada montoknya. Membuat vaginanya berada sangat dekat ke mulut Jenny. Jenny meronta beberapa saat, tapi Sherly lebih kuat dan lagipula tubuhnya berada di atas menindih Jenny.
“Sekarang giliranku untuk orgasme dank arena kamu sudah memakai penis suamiku untuk orgasme, kamu harus menggantikan tugasnya. Jilat vaginaku Jenny!” perintah Sherly. Aku hanya menyaksikan dengan terpesona. Aku tengah menyaksikan bagian dari diri Sherly yang tak pernah kusangka dimilikinya. Jenny mencoba memprotes, tapi Sherly sama sekali tak mengacuhkan. Disorongkan vaginanya kea rah mulut adiknya dan mendesah keras beberapa saat kemudian ketika lidah Jenny menelusup ke dalam lubang vaginanya.
“Ya, begitu Jennyy! Tepat di situ!” ceracau Sherly. Mereka berdua seakan asyik masyuk dalam dunianya sendiri dalam beberapa menit ke depan sebelum pada akhirnya Jenny mendorong tubuh Sherly dari atasnya.
“Hey!” protes Sherly, tapi Jenny cuma tertawa. Dia kemudian mengatur untuk melakukan posisi enam-sembilan dengan isteriku. Kuamati lidah Jenny langsung melata keluar masuk ke dalam vagina kakaknya. Sherly ragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya lidahnya juga memberi aksi yang sama terhadap vagina Jenny.

Terlihat jelas bahwa kedua wanita ini sangat menikmati dan larut terhadap apa yang tengah mereka perbuat. Sudah cukup lama mereka saling memuaskan birahi satu sama lainnya dan aku yakin kalau keduanya sudah mendapatkan paling tidak sebuah orgasme. Batang penisku akhirnya sekali lagi mengeras sepenuhnya dan aku tengah bingung untuk memutuskan apa yang akan kulakukan. Jenny melihat kebingunganku dan mengedip kepadaku sambil sebuah jarinya menyelip masuk ke dalam lubang anus Sherly. Sherly mengerang.

Jenny terus memainkan jemarinya di dalam lubang anus Sherly sambil tetap mengoral vaginanya. Sejenak kemudian Jenny mengisyaratkan padaku untuk mendekat. Dicengkeramnya batang penisku dan menempatkan kepala penisku tepat di lubang anus Sherly. Kudoeng sedikit hingga kepalanya masuk sebelum Sherly akhirnya menyadari apa yang tengah terjadi.

“Tunggu!” teriaknya, tapi Jenny tetap berkonsentrasi pada kelentitnya dan itu membuat perhatian Sherly kabur. Kumasukkan beberapa centi lagi.
“Hentikan, ini sakit!” erang Sherly. Jenny menampar pantat isteriku dengan keras.
“Tapi rasanya sangat nikmat, kan?” tanyanya pada isteriku. Sherly hanya mengerang. Kumasukkan lagi lebih dalam.
“Ya!” Sherly semakin mengerang keras.
“Jadi, diam dan nikmati saja!” perintah Jenny menampar pantat Sherly lagi. Jenny merangkak ke bawah tubuh Sherly dan mulai mempermainkan kelentitnya.

Aku terus mendorongkan penisku semakin ke dalam anus Sherly. Rasanya sangat rapat dan aku tak yakin sepenuhnya apakah dia menikmati ini ataukah tidak.

“Apa kamu ingin aku berhenti?” tanyaku meyakinkan.
“Jangan! Masukkan seluruhnya. Sodomi aku!” teriak Sherly. Dan jawaban itu membuatku melesakkan sisa penisku selurhnya tanpa ragu lagi. Dia langsung mulai orgasme. Kurasakan denyutannya seiring tiap sodokanku.

Kusodomi Sherly dengan keras dan cepat, membuat buah zakarku menghantam dahi Jenny. Segera saja aku orgasme beberapa menit kemudian. Sherly dan aku rebah kecapaian sedangkan Jenny meberi kami masing-masig sebuah ciuman yang penuh nafsu yang dalam. Tak disangsikan lagi kalau dia juga sangat membutuhkan sebuah pelapasan yang sangat mendesak.

Begitu kondisiku dan isteriku mulai pulih, tanpa menyia-nyiakan waktu lagi kami berdua langsung berkonsentrasi pada vagina Jenny. Dengan bergantian lidah kami mengeksplorasi seluruh titik sensitifnya. Dan itu membuat Jenny merintih memintaku agar segera menyetubuhinya langsung.

Kuposisikan dia dalam dogy-style, Sherly memposisikan dirinya diantara tubuhku dan Jenny dan mencumbu anus adiknya dengan menggunakan lidah. Hal ini terlalu berlebihan untuk dapat ditahan Jenny lebih lama lagi dan orgasme segera menggulungnya. Denyutan liar dinding vagina Jenny tak mampu kutahan, kulit penisku yang terasa sangat sensisit segera memberiku ledakan orgasme yang berikutnya. Isteriku terus saja mencumbui lubang anus adiknya saat aku semburkan kembali spermaku di dalam vagina adik iparku untuk kesekian kalinya.

Kami bertiga hanya mampu berbaring kelelahan dengan tubuh bersimbah keringat untuk sekian waktu. Saat akhirnya kami mampu bergerak, hanya dengan gerakan tubuh yang lemah dan pelan. Secara bregiliran kami mandi menyegarkan tubuh, berpakaian dan bertemu di meja makan. Sherly menyiapkan sesuat untuk mengganjal perut kami semua yang kelaparan.

“Aku lapar,” Jenny said.
“Aku juga,” timpalku.
“Aku rasa kita sudah membangkitkan selera makan kita,” Sherly tersenyum. Hampir disepanjang acara makan kami diwarnai keheningan. Masing-masing tenggelam dalam alam pikirannya. Aku lihat Sherly sedang menata mentalnya untuk membuka omongan. Akhirnya dia menatapku begitu acara makan kita selesai.
“Jadi, apakah kita semua baik-baik saja?” nada bicaranya terdengar nervous. Kami saling menatap satu sama lain dalam beberapa saat dan kemudia aku mengangguk. Senyuman Sherly terkembang.
“Bagaimana dengan kamu?” Tanya Sherly pada adiknya.
“Mmm, aku belum tahu,” jawab Jenny dengan jujur, tapi kemudian dia tersenyum lebar dan bertanya, “Yang kamu maksud itu tentang kamu dan Bob atau kenyataan bahwa baru saja aku sadar kalu aku seorang lesbian yang juga menikmati hubungan incest?”
“Kamu bukan lesbian,” jawabku sambil tersenyum.
“Dia benar,” Sherly menambahkan. “Kamu seorang biseksual yang menikmati hubungan incest.” Jenny tidak bias menahan diri. Dia tertawa terbahak. Sherly dan aku ikut tertawa, tapi dengan cepat tawa kami berhenti.
“Jenny, beri Bob kesempatan,” kata Sherly dengan lebih serius. Jenny menarik nafas.
“Akan kupikirkan.”
“Dan diskusikan dengannya soal belum juga hamilnya kamu. Kalian berdua mungkin harus membicarakan hal tersebut. Mungkin sekaranglah waktunya untuk datang ke dokter ahli.”
“Wow, sekali nasehat langsung komplit,” jawab Jenny dengan tersenyum. Dia terlihat agak bimbang.
“Hei, kamu boleh menyewa suamiku sebagai gantinya kalau yang jadi masalahmu adalah Bob,” gurau Sherly, mencoba untuk membuat adiknya tersenyum. Senyuman Jenny semakin terkembang lebar saat tangannya bergerak mengelus perutnya.
“Masalah itu mungkin sudah terpecahkan kalau memang yang bermasalah aadalah Bob. Minggu ini adalah periode masa paling suburku dan suamimu sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik saat mengisiku dengan spermanya.”

Alis Sherly’s, dan tentu saja alisku, terangkat karena terkejut. Kami saling mamandang dan kemudian menoleh ke arah Jenny. Akhirnya kami bertiga hanya mengangkat bahu.

“Itu issue untuk besok saja,” jawab Sherly.
“Kalau memang jadi,” Jenny menambahkan.
“Beritahu kami kalau akhirnya kamu memutuskan untuk memaafkan Bob,” kataku, merubah topic pembicaraan. “Akan tiba waktunya bagi Bob dan aku untuk membicarakannya, tapi itu persoalan lain lagi. Dan jika semuanya berjalan baik dan antara kamu dan Bob ok, aku rasa aku ingin melihat Bob dan Sherly melakukannya secara langsung. Aku yakin itu akan terlihat lebih hebat dari pada di dalam video.”
“Hanya selama aku diberi kesempatan dengan kamu lagi,” jawab Jenny menimpali ‘tantanganku. Dia kemudian menoleh kea rah Sherly dan dengan tersenyum menambahkan, “Tentu saja dengan kamu juga.”
“Aku bisa menggaransi kalau soal itu,” balas Sherly.

Jenny memberi sebuah pelukan pada kami berdua sebelum dia pergi. Sherly dan aku saling menatap dalam kebisuan untuk beberapa saat.

“Nah, sekarang bagaimana?” Tanya Sherly. Awalnya aku hanya mengangkat bahu, tapi kemudian kuhembuskan nafas. Aku sadar jika kami berdua membutuhkan sebuah aturan dasar dalam hal ini.
“Pertama, aku rasa kita harus saling setuju dan berjanji bahwa kita tidak akan saling bermain dengan orang lain tanpa persetujuan salah satu dari kita. Tak ada lagi affair,” jelasku dengan ringkas. Sherly tampak sedikit malu dan mengangguk setuju.
“Kita harus ekstra hati-hati terhadap anak-anak. Aku tidak mau gaya hidup kita yang baru ini membawa sebuah dampak bagi mereka semua,” Sherly menambahkan.
“Setuju.”
“Kamu puny ide yang lain lagi?” Tanya Sherly. Aku menyeringai.
“Ya, masih ada sebuah hukuman yang menunggumu.”
“Hukuman?” Tanya Sherly, matanya berbinar.
“Yeah, sekarang aku tahu kalau kamu suka sedikit kekerasan dan rasa sakit, aku rasa kita harus kembali lagi ke kamar. Lagipula anak anak tidak ada dan kita hanya berdua saja sekarang.”
“Apa yang kamu rencanakan?” Tanya Sherly curiga. Aku hanya tersenyum lebar.

Kami habiskan beberapa jam berikutnya dengan saling memuaskan dan memanjakan satu sama lain. Tidak semua yang kami coba berjalan dengan baik, tapi saat itu tidak berjalan sesuai harapan, kami hanya tertawa dan kemudia mencoba sesuatu yang lainnya lagi. Untuk pertama kalinya Sherly dan aku saling berbagi seluruh fantasi seksual dalam kehidupan dua puluh tahun perkawinan kami. Kami sadar kalau tidak semua fantasi tersebut bisa diwujudkan dalam satu malam ini, tapi kami sudah melakukan sebuah awal yang bagus.

Mentari pagi hanya menunggu satu dan dua jam untuk terbit saat akhirnya kami merasa terlalu lelah untuk mencoba sesuatu yang lain lagi, tapi kami berdua belum merasa mengantuk juga. Sekali lagi kami mandi lagi dan melangkah menuju ke kamar tamu. Kamar ini memiliki pemandangan yang indah saat mentari terbit dan juga seprei yang bersih dan segar.

Kami berdua berbaring dan berbincang seakan sudah tak saling bicara selama bertahun-tahun. Aku bahkan tak begitu yakin apa yang sedang kami diskusikan, tapi pada akhirnya aku merasa lebih dekat dengan isteriku melebihi sebelumnya. Manteri terbit mengantarkan kami berdua lelap dalam mimpi indah dengan saling memeluk.

0 komentar: